Pondok Pesantren Al-Quraniah

Monday, July 11, 2005

Visi Ponpes Al Quraniyah

“ Mitra Terdepan Para Orang Tua Dalam Mendidik Insan Islami Di Provinsi Bengkulu Dan Sekitarnya Tahun 2020 “

Misi Ponpes Al Quraniyah

1. Penciptaan Suasana Kehidupan Bermoral Islami
2. Peningkatan Profesionalisme Pendidikan
3. Peningkatan Sarana Pendidikan
4. Peningkatan Partisipasi Seluruh Stakeholders
5. Standardisasi Kurikulum
6. Melaksanakan Pendidikan Berbasis Kompetensi

Arti Penting Ponpes Al Quraniah

Masyarakat di Kabupaten Bengkulu Selatan mayoritas beragama Islam sudah tentu memerlukan adanya suatu lembaga pendidikan yang sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Semenjak berdiri Tanggal 1 Juni 1979, Pesantren Al Quraniyah telah melahirkan alumni berjumlah yang tersebar di berbagai daerah baik di Kabupaten Bengkulu Selatan sampai dengan kabupaten lain di Propinsi Bengkulu.

Pesantren Al Quraniyah yang didirikan oleh tokoh masyarakat Bengkulu, merupakan pondok pesantren yang menjadi salah satu tujuan utama bagi para orang tua untuk menyekolahkan anaknya pada lembaga pendidikan berbasiskan Islam. Walaupun masih belum memiliki dukungan fasilitas yang optimal, hasil yang telah dicapai oleh lulusan Pesantren Al Quraniyah dapat dibandingkan dengan lulusan lembaga pendidikan lainnya. Ciri dan keunggulan yang dimiliki oleh alumni dari pesantren ini adalah pemahaman yang luas dan mendalam terhadap ilmu Al Quran sesuai dengan nama pesantren Al Quraniyah. Selain itu para santri juga dibekali dengan berbagai ketrampilan sebagai keunggulan dalam melanjutkan baik pendidikan yang lebih tinggi ataupun pekerjaan di tengah-tengah masyarakat.

Pengembangan Pesantren Al Qur’aniyah diharapkan dapat menjadi panduan bagi pengembangan pesantren di masa yang akan datang, khususnya yang terkait dengan kerja sama dengan pihak-pihak yang berkompete dengan hasil akhir menjadikan Pesantren sebagai Centre of Exellence Pondok Pesantren di Propinsi Bengkulu khususnya dan Pulau Sumatera pada umumnya.

Penyusunan Proposal Pengembangan ini disusun sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen modern dan pengelolaan aktifitas sosial yang profesional. Pengembangan sistem manajemen dan kelembagaan tersebut akan dilakukan melalui pengembangan kemampuan aktifitas inti (core competence) yang dimiliki oleh Pesantren Al Quraniyah baik secara horisontal maupun vertikal. Untuk tujuan tersebut akan rekomendasikan beberapa perubahan secara tepat sasaran pada aktifitas menyangkut disain dan pengembangan infrastruktur dan fasilitas pendukung, konsep dan aplikasi manajemen operasional, sistem pengembangan Sumber Daya Manusia yang terkait dengan seluruh proses belajar mengajar yang dilakukan. Selain itu Penyusunan Proposal

Rencana dan Strategi Pengembangan Pesantren Al Qur’aniyah ini juga akan mempersiapkan berbagai hal menyangkut rekayasa finansial, konsep aliansi strategis serta mempersiapkan legal audit terhadap dokumen-dokumen pesantren yang berhubungan dengan berbagai peraturan pemerintah.
Studi ini diarahkan untuk menjadikan Pesantren Al Qur’aniyah sebagai Centre of Exellence Pondok Pesantren di Propinsi Bengkulu khususnya dan Pulau Sumatera pada umumnya.

Latar Belakang

Globalisasi dan kemajuan teknologi telah membawa perubahan besar dan nyata pada interaksi antar bangsa-bangsa di dunia. Selama satu dekade terakhir telah terjadi pergeseran paradigma dalam perekonomian dunia yaitu beralihnya masyarakat industri menjadi masyarakat informasi. Hal tersebut dipicu oleh kemajuan teknologi serta ditandai dengan semakin meningkatnya peran informasi dan ilmu pengetahuan dalam setiap aktifitas kehidupan manusia. Kemajuan teknologi dan perkembangan arus informasi turut pula mendorong perubahan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Demokratisasi politik dimulai saat kebebasan berpendapat yang dipicu oleh mengalirnya informasi

Salah satu hal yang perlu dicermati adalah meningkatnya persaingan antar bangsa dan negara. Hal tersebut mengharuskan Bangsa Indonesia yang berpenduduk mayoritas Islam untuk melakukan berbagai perubahan secara cepat dan tepat dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas Sumber Daya Manusia.
Aktivitas kependidikan Islam di Indonesia pada dasarnya sudah berlangsung dan berkembang sebelum Indonesia merdeka. Hal ini dapat dilihat dari tumbuh kembangnya program dan praktik pendidikan Islam yang dilaksanakan di Nusantara, baik yang berupa pendidikan Pondok Pesantren, Pendidikan Madrasah, Pendidikan Umum yang bernafaskan Islam, pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diselenggarakan di lembaga-lembaga pendidikan umum sebagai suatu mata pelajaran atau mata kuliah saja, maupun pendidikan agama Islam yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok masyarakat serta di tempat-tempat ibadah dan media massa.

Demikian pula halnya dengan lembaga pendidikan berbasis Islam seperti halnya pesantren. Sebagai institusi yang memiliki ciri khas pada pendidikan agama Islam secara mendalam, pesantren harus mampu menjadi lembaga pendidikan alternantif yang dapat menghasilkan SDM yang berakhlak Islami tinggi serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai prasyarat dalam berkompetisi di era global. Oleh karena itu pendidikan di pesantren tidak dapat ditangani secara parsial atau setengah-setengah tetapi memerlukan suatu pemikiran pengembangan yang utuh sebagai konsekuensi dari identitasnya sebagai sekolah umum yang berciri khas agama Islam. Hal ini terkait erat dengan upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia yang memiliki minimal dua kompetensi yaitu kompetensi di bidang imtaq (Iman dan Taqwa) dan Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

Pendidikan pesantren dianggap mampu memberikan nilai lebih dari pada pendidikan umum lainnya. Hal itu dikarenakan pendidikan pesantren tidak hanya meliputi aspek lahiriah semata akan tetapi juga memberikan nilai-nilai moral dan ahlak Islami. Pola pendidikan semacam itu diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang mampu berperan sebagai motivator, filter serta mampu membentuk kesadaran generasi muda dalam hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Para ulama sering mengungkapkan akibat negatif dari pesatnya kemajuan teknologi dan arus informasi mengharuskan kembalinya peranan basis moral dalam kehidupan. Hal ini tidak mudah karena pembangunan yang dilakukan selama ini lebih menekankan pada aspek materialistis semata. Oleh karenanya pendidikan agama harus mampu menjadi media yang menetralisir berbagai dampak meterialisme tersebut. Namun demikian hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu dilakukan pembaharuan metodolodi pendidikan Islam sehingga dapat membangun kembali moralitas sebagai dasar mental dan karakteristik bangsa dikalangan generasi muda selaku anak didik.

Struktur Program Ponpes

Struktur program Pondok Pesantren Al-Quraniyah adalah pembagian bidang studi dan alokasi waktu yang terstruktur dan diperlukan untuk setiap jenjang pendidikan dan disesuaikan dengan program nasional (pemerintah) serta program Pondok Pesantren.

Program pemerintah adalah seluruh program yang tertera dalam kurikulum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Departemen Agama. Sedangkan program pondok pesantren adalah program non-formal yang disampaikan melalui madrasah diniyah dan pelajaran khusus yang berorientasi pada pendalaman agama melaluli kitab-kitab salaf/ kuning yang meliputi bidang studi:

1. Al-Quran
2. Fikih
3. Ilmu Tajwid
4. Usul fikih
5. Tafsir
6. Bahasa Arab
7. Ilmu Tafsir
8. Nahwu/Sharaf.
9. Akhlak.

Jadwal Kegiatan Ponpes

04.00 - 05.00 Bangun pagi persiapan sholat shubuh
05.00 - 06.00 Kuliah shubuh
06.00 - 07.30 Makan pagi dan persiapan masuk sekolah
07.30- 13.20 Belajar Formal (kurikulum Negeri)
13.20- 14.30 Istirahat.
14.30 - 16.30 Belajar Non Formal (MDA,MD,MDU)
16.30- 17.30 Olah Raga
17.30- 18.30 Persiapan dan Sholat Maghrib
18.30- 19.30 Belajar/pengajian Al Quran
19.30 - 20.00 Sholat 'Isya'
20.00 - 21.00 Belajar kurikulum Pondok
21.00 - 23.00 Belajar di Asrama
23.00 - 04.00 Istirahat

Pola Pendidikan

Pondok Pesantren Al-Quraniyah Bengkulu Selatan memiliki tradisi keilmuan yang telah lama berkembang. Hasil tersebut diterapkan dalam suatu tatanan pola pendidikan yang terintegrasi integrated system yakni suatu sistem pendidikan terpadu yang mengharuskan adanya keterkaitan intensif antara pendidikan formal dan pendidikan non-formal, serta keterkaitan antara pendidikan agama dan pendidikan umum.

Pendidikan formal dan non-formal yang telah dikembangkan di Pondok Pesantren Al Quraniyah, telah diformulasikan dalam posisi yang seimbang dan saling melengkapi. Oleh karena itu, tolok ukur keberhasilan siswa tidak hanya dilihat dari hasil yang dicapai dalarn proses pendidikan formal saja, tapi juga dari proses pendidikan non-formal. Keduanya memiliki standar kewajiban tersendiri dan diarahkan sepenuhnya untuk mencapai tujuan Pesantren.

Pola pengembangan sistem pendidikan terpadu Pondok Pesantren Al-Quraniyah diwujudkan melalui keterkaitan antara pendidikan Agama dan pendidikan Umum. Meskipun kitab salaf merupakan salah satu mata pelajaran bidang wajib yang menjadi pelajaran prioritas, namun Pondok Pesantren Al-Quraniyah juga mengembangkan jurusan-jurusan umum sebagai pola perwujudan tersistim : Agama dan Umum.

Dari pola tersebut diharapkan santri Pondok Pesantren Al-Quraniyah mampu menguasai pelajaran-pelajaran agama sesuai dengan standar yang telah dirumuskan oleh Pondok Pesantren sekaligus penguasaan ilmu pengetahuan umum sesuai dengan standar masing-masing jenjang pendidikan.

Lokasi Ponpes

Pondok Pesantren Al-Quraniyah bertempat di Jl. Affan Bachsin No. 13 Manna Bengkulu Selatan Kode pos 38518 Telp./Fax. (0739) 21689.

Sejarah Ponpes Al Quraniyah

Pondok Pesantren Al-Quraniyah didirikan oleh Yayasan Affan di Jakarta pada tahun 1976. Satu tahun kemudian Yayasan Affan mendirikan Institut Ilmu Al-Quran (IIQ). Dalam perkembangan selanjutnya pada tanggal 1 Juni 1979 didirikanlah secara resmi Pondok Pesantren Al-Quraniyah bertempat di Jl. Affan Bachsin No. 13 Manna Bengkulu Selatan. Untuk lebih meningkatkan kinerja Pondok Pesantren maka pada tahun 1993 dibentuklah Yayasan Affan yang berpusat di Manna dengan akte notaris tanggal 22 Pebruari 1993 oleh Notaris Zulkifli Wildan, SH

Selanjutnya pada tanggal 12 Juli 1978 dibentuklah sebuah lembaga yaitu Lembaga Pendidikan Islam (LPI). Sebagai langkah pertama LPI membuka kursus Qiraah (seni membaca Al-Quran) untuk tingkat remaja dan kanak-kanak selama 12 (dua belas) bulan per periode, Alhamdulillah minat masyarakat cukup tinggi sehingga peserta kursus tersebut mencapai 4 lokal/kelas, belum termasuk kaum ibu.

Berdasarkan Rapat Pengurus Yayasan Affan yang bertujuan meningkatkan kinerja para pengurus, maka pada Tanggal 26 Pebruari 1999 telah disahkan oleh notaris Agust Syah Alie Kianggoen SH, Dipl. Ing. H. Bambang Soeroso yang juga merupakan anggota MPR Utusan Daerah dari Propinsi Bengkulu sebagai Wakil Ketua Umum.